Tampilkan postingan dengan label modifikasi montor suzuki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label modifikasi montor suzuki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Gaya Modif Satria


Satria F-150 masih jadi dagangan Suzuki paling laris saat ini. Sodoran dapur padu yang punya spek DOHC banyak diminati penikmat kecepatan, termasuk Agus Wijaya yang sudah mengincar besutan bebek sport ini sejak lama.

Ogah tampil standar, motor dimodifikasi mengikuti arus. Maksudnya menyesuaikan gaya yang sedang happening bagi pemilik Satria F. “Pokoknya style kaki-kaki kurus, macam tongkrongan besutan Thailand yang banyak diminati saat ini,” papar pria yang tinggal di Tengerang ini.

Jadi, kaki-kaki yang aslinya adopsi pelek casting wheel atau pelek palang diganti model jari-jari, berpadu dengan ban tipis ala motor adu kebut di trek lurus. “Biar lebih lincah setang standar sedikit ditekuk posisinya ke dalam,” lanjut Agus lagi.
Bagian bodi masih mengandalkan kelir bawaan motor. Cuma biar tampilan lebih ngisi lagi, juga sudah diberi striping yang dirasa cukup mengandalkan cutting sticker. “Desain berupa tarikan garis yang tipis dengan memaikan kelir merah, abu-abu dan hitam,” urai Agus Witjax dari bengkel Witjax Modizigner yang mengerjakan proses cutting sticker ini. 

Masih ngomongin area mesin. Lantaran masih buat aplikasi harian, mesin masih tetap andalkan spek standar. Cuma biar akselerasi lebih responsip, diaplikasi knalpot racing R9 yang katanya berbahan titanium. "Tinggal buka gas sedikit saja udah ngacir nih motor," pede Agus. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan  : FDR 80/60-17
Ban belakang   : FDR 90/70-17
Knalpot     : R9 Titanium
Pelek  : DBS
Agus Widjax : 0856-633-0226 


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Rabu, 17 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Satria FU150


OTOMOTIFNET - Suzuki Satria FU150 bisa dibilang ayam jago yang cukup fenomal di kalangan pencinta kecepatan. Dengan mengusung dapur pacu tegak plus teknologi DOHC, kedahsyatan performanya sangat diacungi jempol. Tak heran kalau hyper underbone andalan pabrikan berlambang S ini laku keras di pasaran dan jadi penyumbang terbesar PT Suzuki Indomobil Sales selaku ATPM Suzuki Tanah Air.

Pembelinya kebanyakan kawula muda yang suka akan kecepatan. "Standarnya aja udah kencang banget," kagum Juniardi, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Depok, Jabar yang 6 bulan lalu memutuskan untuk menebus motor ini.

CDI LEK step 2, indikator kecepatan dan putaran mesin tetap berfungsi

PE28 pakai pilot jet ukuran 45 lantaran karbu gak pakai filter dan knalpot menuntut suplai gas banyak di putaran bawah

Knalpot Ahau Motor, bisa untuk standaran hingga bore-up
Namun uniknya, masih saja banyak pemilik Satria yang masih enggak puas sama performa standarnya. Lalu sederet part pendongkrak tenaga pun diburu. Gak peduli meski banderolnya lumayan ‘menggigit', tetap saja dicapit. Kepiting kali dicapit, hehehe!

Nah, beberapa ramuan yang kerap diaplikasi, tanpa mengorek mesin, antara lain menukar knalpot standar pakai jenis free flow, ganti karbu tipe velocity monoblock alias yang skep langsung ditarik kabel gas serta pemakaian otak pengapian unlimiter.

"Ketiga item part itu sebenarnya sudah lumayan bikin lari Satria FU makin ngacir. Bisa dongkrak tenaga hingga 3-4 dk ," bilang Rudy Sukiman alias Ahau, juragan Ahau Motor (AM) di Jl. Akses UI, Kelapa Dua, Depok. Untuk membuktikannya, AM coba kasih ramuan andalannya. Diterapkan di Satria FU standar keluaran 2006.

Part-partnya antara lain sebagai berikut. Untuk saluran gas buang, dipercayakan produk dewek (merek Ahau Motor) yang tebuat dari stainless steel. Harga eceran tertingginya Rp 900 ribu. "Bisa buat FU standar hingga bore-up," bilang Ahau.

Lalu otak pengapian pakai merek impor, yaitu LEK step 2 asal Thailand yang di pasaran dilego sekitar Rp 1 - 1,3 juta. Meski jenis kurvanya single map, CDI ini cukup banyak diandalkan para Satrior (sebutan untuk pemilik Satria yang suka kecepatan) lantaran cukup terbukti keandalannya. Putaran mesin bisa digeber mentok kalo pakai CDI ini.

Terakhir, karburator diganti pakai punya NSR SP, yaitu PE28. "Tapi jika pakai karburator ini, filter udara standar tak bisa lagi digunakan. Jadi, karburatornya nanti open filter," terang Rusli, mekanik AM. Banderol PE28 di pasaran sekitar Rp 550 ribu. Oh iya, untuk kombinasi knalpot Ahau Motor plus CDI LEK, AM menyarankan spuyernya mesti disetting ulang. Kombinasi pilot jet dan main jetnya yaitu 115/42.

Sebagai ajang pembuktian, OTOMOTIF diberi kesempatan mengukur akselerasinya pakai performance test merek Race Logic buatan Inggris. Tentu hasilnya dibanding dengan akselerasi Satria FU standar pabrik yang sudah diuji terpisah sebelumnya. Hasilnya, silakan lihat tabel hasil tes akselerasi.

Ahau Motor: 021-71628889
Tabel hasil pengukuran akselerasi
Akselerasi Standar Knalpot+CDI+Karbu PE28
0-60 km/jam 5,1 detik 4,1 detik
0-80 km/jam 8,1 detik 7,0 detik
0-201 m 11,8 detik 10,2 detik
0-402 m 19,5 detik 17,1 detik
Top speed 120 km/jam 135 km/jam


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com


Selasa, 16 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Thunder 250 | Black Red Modification


Aliran hot rod bisa dikatakan salah satu gaya modifikasi yang mendunia. Di komunitas matic saja konsep ini bisa diadaptasi. Apalagi di motor tipe sport seperti Thunder 250 ini. Sudah pasti bisa banget dan lebih mudah mendapatkan desain sesuai dengan yang ada di negara asalnya sana. 

Apalagi desain dan ukuran mesin Thunder yang cukup besar, jadinya aliran hot rod tepat diterap. "Karena itu harus mengutamakan kelir hitam dengan sedikit saja motif airbrush di beberapa bagian bodi," kata Putu Ajus Mulawarman dari Auto Motor Sport (AMS) di Sanur, Bali. Warna yang tepat juga dengan edisi 666 ini.

Selain warna, tentu saja ada hal yang harus dipenuhi. "Terutama urusan rangka, karena yang namanya hot rod itu beda banget dengan standarnya Thunder 250," kata Ajus.

Dia membuat rangka baru menggunakan pipa berdiameter 1 inci. Khusus untuk belakang atau posisi jok desainnya cukup aneh. Melengkung sehingga posisi duduk lebih turun.
"Bentuk rangka yang melengkung itu tujuannya agar motor terlihat lebih ceper sehingga konsep hot rod tadi semakin dapat," kata lajang 24 tahun ini. Memang jika kita berpatokan ke modifikasi mobil sebagai yang pertama memperkenalkan hot rod, modifikasinya memang harus ceper.

Selain unik dari rangkanya, desain tangki juga tak biasa. Tidak terlalu besar. "Kalau di Bali ini disebutnya model kumbang. Untuk membuat seperti ini tidak gampang, lho," bangganya.

Hal itu karena di sisi kiri dan kanannya agak sedikit ke dalam. Sehingga perlu dibuat lekukan di bagian ini. Begitu juga bentuk tutup tangkinya. Ini seakan menjadi ciri khusus yang hanya ada di motor ini. Hal itu bisa terjadi karena ini merupakan produk hand made dan hanya dibuat 1 unit saja. Beda kalau misalnya mengandalkan produk variasi yang pasaran.

Selain menyisakan mesin, ternyata ada satu komponen yang masih original. Yaitu sok depan. "Tapi, tentu saja sudutnya diubah. Sekarang sok terlihat lebih tidur, tidak berdiri lagi sehingga semakin harmonis," tutup pemilik bengkel di Jl. Tandakan, No. 2, Sanur, Bali ini.  
Pelek Belang
Hal lain yang perlu dicermati di modifikasi ini adalah ukuran peleknya. Baik lebar telapak maupun lingkar diameternya. Itu memang disengaja oleh Ajus.

"Pelek belakang dibuat dengan ukuran lebar 6 inci dan lingkarnya 17 inci," kata Ajus. Pelek lebar seperti ini juga semacam syarat untuk tampil bergaya hot rod.

Sementara itu untuk roda depan menggunakan ring 18 inci. Peleknya juga tidak terllau lebar, hanya 2,5 inci saja. Demi menunjang harmonisasi, maka pelek ini menggunakan jari-jari rapat atau 72. Selain itu semuanya juga dicat merah supaya kontras dengan bodi yang hitam.  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Pelek depan: Champ
Ban depan: Swallow 120/70-18
Pelek belakang: Custom 6 x 17 inci
Ban belakang: Bridgestone 190/55-17
AMS: 0857-3824-9700


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Senin, 15 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Satria FU 150

 
OTOMOTIFNET - Bagi Ilham Aldri, tampil resik wajib diterapkan pada besutannya; Suzuki Satria FU lansiran 2005. Maklum, dia termasuk member senior dan jadi panutan di club Satria Cibinong.

“Malu dong sama yang muda kalau tampilan motor gue busuk bin dekil,” bilang pria supel ini. Masalah ubahan gak terlalu ribet karena sebagian besar Ilham mengandalkan part PnP alias plug n play.

Namun begitu, untuk urusan penggarapan Ilham gak turun tangan sendiri. Ia dibantu Rifki dari bengkel Yasudaki yang sekaligus juga menjadi teman satu klubnya. Oke deh Om, tapi apa aja nih ubahannya?

Pastinya dimulai dari bagian luar yakni mengaplikasi cover side leg dari bawaan Suzuki Raider Thailand. Selain bikin bodi FU makin ramping, pemasangannya juga simpel! Sebab, semua dudukan bodi tersebut sama persis dengan bawaan Satria FU lokal. Jadi enggak perlu merombak atau menambah dudukan baru.

Enggak cukup hanya mengganti cover. Seluruh bodi juga dilumuri cat warna putih bermotif tribal dari label cat Danagloss. Sedang untuk pernis, pilihannya jatuh pada merek Spies Hecker agar hasilnya maksimal dan terlihat wet look. Hal itu menurut Ilham bisa mendukung tampilan resik tadi.

Setang Honda Nova Dash, lebih rendah di banding bawaan standar

Pelek Zipp, punya profil bibir pelek yang tebal
Nah sekarang bicara kaki-kaki. Pelek standar model palang dinilai udah pasaran! “Kurang modis kalo tetap mempertahankan aslinya,” aku pria pandai bergaul ini. Solusinya diganti tipe jari-jari. Untuk pelek depan dan belakang, dipilih merek Zipp dengan ukuran 1,40 x 17. Eits bukan tanpa alasan, sebab profil bibir pelek yang tebal jadi pertimbangan Ilham.

Swing arm berlubang, bikin bobot motor lebih enteng
Sedang untuk menemani pelek depan tadi, dipasang pula cakram dari copotan Kawasaki Ninja 150 RR yang punya diameter piringan menyerupai bawaan standar. Sedang untuk kaki-kaki belakang, swingarm standar diganti dengan label Yoshimura yang punya profil berlubang.

“Selain buat gaya, otomatis pemasangan arm itu bikin bobot motor berkurang dan efeknya dapat berpengaruh ke performa mesin,” sahut pria yang senang sekali turing ke luar kota ini. Oh iya bicara soal performa, knalpot mengadopsi label CMS yang dinilai lebih free flow dari bawaan standar. Menurutnya sih, itu sudah cukup untuk mendukung tarikan kuda besinya.

Bagian akhir, Ilham hanya bermain dengan aksesori pendukung seperti footstep racing dan setang copotan dari Honda Nova Dash. “Posisi setang lebih rendah dibanding bawaan standar. Hal itu bikin tampilan kemudi jadi gak berkesan baplang lagi. Pokoknya, nuansa racingnya kental banget, deh,” bangganya, menutup pembicaraan.

Simpel tapi manis!

Data Modifikasi :
Pelek: Zipp 140-17
Ban depan: FDR 70/80-17
Ban belakang: Mizzle 80/80-17
Mater rem: LHK
Setang: Honda Nova Dash
Sok belakang: Custom
Swing arm: Yoshimura
Footstep: Yoshimura

sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Thunder 250

Bore up dan perbedaan mungkin masalah lain. Tapi, buat Dian Okem Prastia, keduanya diwujudkan dalam motor tunggangan hariannya. Langsung tembak. Suzuki Thunder 250 dinaikkan jadi 350 cc.

”Urusan mesin saya percaya pada Bro Inyong, lewat bore up pakai seher 82 mm, kapasitas tepatnya jadi 350 cc. Banyak yang bilang kemungkinan jebolnya gede, tapi saya cuek. Toh aman dipakai harian sampai pelosok Tangerang,” pede Okem.

Nah, untuk soal perbedaan, ia berfilosofi di lelaku painting motor ini. “Konsepnya gambar-gambar freehand yang berbeda-beda sebagai simbol perbedaan yang ada,” katanya berapi-api.

Terkesan seru dan rame, Okem percaya ke rumah modifikasi Udin Cikarros yang masih sobat sepermainannya. Teknik freehand lumayan unik, karena dilakoni dengan tangan dan spidol yang dipernis agar tahan lama dan nggak gores.

Pilihan motif kental nuansa ke-Indonesiaan. Motif-motif batik khas Jawa dipadu pola-pola Kalimantan dan berbagai gaya bernuansa lokal.
Customized umum, menganut gaya mendekati Jap’s style. Bangunan sasis asli Thunder nggak banyak diubah sepertihalnya chopperis. Ia hanya merombak bagian belakang paduan gaya chopper dan scrambler. Di sasis tengah misalnya, mendekati gaya choppers dengan jok berundak dua yang terkesan konvensional. Ke balakang, dibuat nge-jap’s flat track scrambler.

“Semua pranti penunjang mulai tangki, sepatbor, setang sampai knalpot dibuat oleh Udin Cikkaros,” timpal anggota klub Southland MG ini.

Ke depan, rombakan terbilang minimalis. Rake asli Thunder nggak diotak atik. Ia percaya sok depan asli Thunder yang memang sudah ideal untuk motor-motor cc menengah. “Tampilan sudah padat. Saya hanya ganti setang standar pakai U bar tanpa rider tinggi. Secara ergonomi enak diajak riding jauh,” jelasnya.

Di bagian belakang, ia merasa kurang sreg dengan teromol standar Thunder 250. Agar lebih pas dan mumpuni, dipasang teromol model Honda Shadow 400. ”Pilihan ini makin tampah padat di sektor belakang sekaligus meredam akselerasi motor yang lumayan ganas karena naiknya kapasitas mesin ini,” bangga Okem. (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Pelek depan: El Nana 2,50x17
Pelek belakang : El Nana 5,00x17
Ban depan : Corsa 130/80-17
Ban belakang : Corsa 150/60-17


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Thunder 250

Bila dibandingkan antara Ducati atau Aprillia, Moto Guzzi meskipun sama-sama besutan asal Italia masih jarang terdengar kiprahnya. Namun jangan salah bagi anda pecinta besutan balap jadul alias café racer pabrikan motor yang berdiri di sebuah kota kecil di Lombardy, Italia ini, punya besutan andalan yang berjuluk Moto Guzzi V7 Racer.

Inilah yang bikin Kwendy Alexander naksir berat dengan tampilan  Moto Guzzi V7 Racer, lantaran dari pabriknya sudah berwujud besutan cafe racer. “Kepingin Thunder 250 ini dibuat tampilannya layaknya V7 Racer, Bro,” cerita Donny Aryanto, builder dari Studio Motor Custom Bike (SMCB) yang menggarap motor Kwendy.

Menurut Kwendy cukup  jadi Moto Guzzi wanna be saja yang penting bisa tampil beda dibanding yang lain. Sebab mau beli yang aslinya masih belum berani. Lantaran motor ini produksi terbatas makanya harga juga ekslusif.

Pengerjaan awal dimulai dari sektor kaki-kaki, bawaan Thunder 250 dilungsurkan untuk digantikan dengan sok depan teleskopik kepunyaan Yamaha Byson. Dirasa cukup karena diameter as sok yang sudah cukup besar 41 mm memang pas diandalkan untuk ubahan custom.

Swing arm dibuat sendiri oleh Studio Motor Custom Bike  mengandalkan pipa seamless diameter 1,25 inci, untuk peredam kejut belakang dipadukan dengan sok YSS G-Series. Giliran pelek lebar di pasang buat menemani kedua rodanya.
“Pelek depan dan belakang dipakai labelan Champ ukuran 3x18 inci dan 3,5x18 Inci dengan padanan ban Shinko Radial 120/70-18 dan 150/70-18 untuk depan dan belakang,” urai Donny yang menambahkan pilihan ban import bikin dongkrak tampilan motor.

Selanjutnya proses pembuatan bodi, dibuat ala Motoguzzi V7 Racer dengan material pelat galvanis 1,2 mm. Mulai dari areal tangki, sepatbor depan dan belakang serta buntutnya. “Untuk cover bodi di bawah jok dibikin berlubang layaknya wujud asli Moto Guzzi V7,” terang builder yang buka workshop di Jl. kesehatan, Bintaro, Jakarta Selatan.

Untuk proses pengecatan digarap oleh Komet Studio yang juga sudah jadi mitra SMCB. Pemilihan warna hitam titanium dipadu padan stripping minimalis khas cafe racer diracik apik bermodalkan cat dan pernis labelan Sikkens, tidak lupa membubuhkan angka tujuh sebagai ciri khas dari Motoguzzi V7 Racer. (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Shinko Radial 120/70-18
Ban belakang : Shinko Radial 150/70-18
Sok depan : Yamaha Byson
Swing arm : Custom
Sok belakang : YSS G-Series
Filter Udara :TDR
SMBC :(021)92653870
sumber : http://motorplus.otomotifnet.com 

Modifikasi Satria F-150

Wildan Zuhdi termasuk anggota Tim MT. Yaitu kumpulan speed lover yang kerap adu kebut di Jl. MT Haryono, Jakarta Timur. Namun pacuan Wildan kerap keok dibanding motor milik Wildan Abnormal dan Pahla Gumelar. Mereka juga sesama anggota SSFC (Suzuki Satria F150 Club).

Itu yang membuat Satria F-150 milik Wildan Zuhdi dikorek abis. Sengaja diorder pada Mas Londo TRB alias Agus Ernawan. Dia mekanik asal Jogja yang selalu menyertakan  hasil dinotest setiap kali menelurkan motor balap.

Format korekan sebenarnya untuk turing. “Power besar namun kuat diajak jalan jauh. Sekaligus untuk media pembelajaran bagi pembaca. Makanya daleman mesin rela difoto-foto,” jelas Wildan.

Untuk bore up, ogah meniru lawan yang aplikasi diameter seher 70 mm. Mas Londo memilih format lain. Menggunakan seher Kawasaki Boss yang oversize 200. Ukuran diameternya 67 mm.

Karena untuk turing, stroke dinaikkan. Supaya torsinya lebih besar. Posisi big end digeser 3 mm. Otomatis naik-turun stroke bertambah 6 mm. Asalnya langkah seher standar hanya 48,8 mm, kini jadi 54,8 mm.

Dari sini bisa ketahuan. Volume silinder sekarang 193 cc. Lebih besar daripada menggunakan seher 70 mm dengan stroke standar yang hanya 188 cc.

Meski naik stroke, namun paking blok silinder tidak kelihatan. Karena Mas Londo menggunakan setang seher Yamaha Scorpio. Katanya lebih pendek 1,5 mm dibanding milik Satria F. Ditambah pemapasan kepala seher 1 mm. Jadinya stroke bisa naik-turun 3 mm tanpa ada nya paking tebal.

Untuk memperbesar debit gas bakar, klep isap menggunakan 25 mm. Sedangkan klep buang 23 mm. Diambil dari motor Bajaj Pulsar. Karena memiliki batang hanya 4,5 mm. “Seperti punya Satria F yang kecil, sehingga minim gesekkan,” jelas Wildan yang kini dinas di kehutahan Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung itu.

Yang unik pada penggunaan kem. Menggunakan dua noken as standar in.  Tapi, satu untuk mengatur klep isap dan satu lagi untuk mengatur klep buang. Supaya tidak tertukar ketika pemasangan, untuk kem buang dikasih tulisan ex.

Kedua kem durasinya dibuat 295 derajat. “Bisa besar karena diukur dari lift nol. “Begitu pelatuk menyentuh klep, durasinya mulai dihitung. Tidak seperti biasanya yang diukur setelah klep membuka 1 mm,” jelas Mas Londo yang sedikit endut itu.

Durasi segitu didapat dari klep isap membuka 27 derajat sebelum TMA  (Titik Mati Atas) dan menutup 88 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Untuk klep buang, membuka 88 derajat sebelum TMB dan menutup 27 sesudah TMA.
Buat rasio kompresi hanya dipatok rendah. Yaitu 12 : 1. Maklum hanya dipakai harian. Agar bahan bakar yang digunakan bisa menggunakan dari SPBU.

Sedangkan karburatornya dipilih yang punya venturi besar. Yaitu menggunakan Keihin PWK Sudco 35 Air Strike. Pilot-jet 35 dan main-jet 120.

Pelepasan gas buang juga kudu lancar. Dipesan khusus dari bahan steinless steel. Buatan pengrajin knalpot yang menamakan dirinya Stenley asal Ciledug, Tangerang.

Kopling 6 Lembar
Karena power dan torsi sudah besar, kalau menggunakan kampas kopling biasa akan selip. Termasuk ketika hanya menggunakan per kopling yang lebih keras. Gejala selip tetap terasa. Tenaga mesin akan terbuang percuma.

Untuk itu, aksi modifikasi di rumah kopling dilakukan. Dibuat agar bisa terpasang 6 lembar dari semula yang hanya 5 lembar. Pelat pengangkat dibubut dan rumah kopling dipapas. Hasilnya kini tidak selip lagi. Padahal per kopling masih pake aslinya. Namun supaya maksimal kudu diganjal ring ring 2 mm.

Uji Dynotest
Satria yang dijuluki Den Bagus ini kurang puas kalau dikorek hanya berdasarkan kira-kira. Untuk pengujian kenaikan powernya, menggunakan dynotest.  Sewa di Ultraspeed di Jl. Haji Mencong, Ciledug, Tangerang.

Berikut magnet yang sudah dientingin dengan sisa beratnya 800 gram, powernya kini kelihatan jadi 27,17 HP pada 10.100 rpm. Torsi yang dihasilkan 20,51 Nm di 8.700 rpm.

Di jalanan pernah ketemu Kawasaki Ninja 250R yang sudah menggunakan knalpot racing. “Main tarik-tarikan, hasilnya bisa menang,” kenang Wildan yang sebelum ini pernah diasapi Yamaha Jupiter MX 250 cc di Bangka. Kini siap melawan kembali MX terkencang disana itu. (motorplus-online.com)

 

DATA MODIFIKASI
Pelek : TK Excell  1,4x17 & 1,60x17
Ban depan : Mizzle 2,50x17
Ban belakang : Comet 60/80x17
Final gir : SSS 14/36
Rantai : TK gold 428H
Gas spontan: RS125

sumber : http://motorplus.otomotifnet.com  

Modifikasi Suzuki Shogun 125

Buat yang kerap main adu kebut malam di trek lurus 500 meter, silakan coba Suzuki Shogun 125 yang dipacu Faisal F. A. ini. Seting dite-rapkan khusus untuk setengah kilometer. Kapasitas mesin, baru 201 cc lho!

Menurut Nurcholis Sang Empunya, Herman Lo alias Ahon ada  di belakang layar penggarapan Shogun 125 miliknya.

“Iya. Tapi, sebatas bikin saja. Setelah itu ditangani Hendrik, mekanik yang dipercaya untuk merawat,” buka Olis yang tinggal di Kelapa Dua, Jakarta Barat.

Inti setingan terletak di kepala silinder. Terutama, noken as alias kem. Durasi yang diterapkan, bermain di 273º.

Klep isap, membuka 33º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60º sebelum TMB (Titik Mati Bawah).

Sedang klep buang, membuka 60º sebelum TMB dan menutup 33º setelah TMA. Artinya, kedua bumbungan punya durasi yang sama.

Terlihat jelas kalau Lobe Separation Angle (LSA) bermain di 103,5º. “Angka ini tergolong cukup buat trek 500 meter,” kata Hendrik yang usung bengkel HD-Tech Tuan Muda.

Klep Isap, hanya pakai merek EE diameter payung klep 31 mm. Klep ex, dipatok di 26 mm. “Sekarang tenaga atasnya makin dashyat. Sebelumnya pakai batang klep 5,5 mm, sekarang 5 mm,” timpal Faisal yang beken disapa Arab.

Buat mengatur semburan bensol yang masuk ke ruang bakar, karburator Keihin PE 28 direamer hingga 32 mm. Main-jet pakai 122 pilot-jet 58. Rasio kompresi ruang bakar, dipatok di 14 : 1.

Oh ya! Ruang bakar sendiri, disesaki piston Honda Tiger oversize 200 yang berdiameter 65,5 mm. Stroke, dinaikan lewat aplikasi pen stroke 3 mm. Sekarang, langkah piston jadi 59,5 mm. Total isi silinder, 200,8 cc. Tertarik? (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 50/90-17
Ban belakang : HUT 60/90-17
CDI : Rextor
Koil : Suzuki RM125
HD-Tech Tuan Muda : 0856-8036-303


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Thunder 125

Suzuki New Thunder 125 punya banyak yang baru. Mulai dari desain yang sebenarnya baru dan mesin yang baru juga. Meski sudah sejak bulan Juni lalu diluncurkan, enggak ada salahnya kalau saat ini baru di coba. Lebih baik telat dari pada enggak sama sekali.

Desain dan Fitur Mirip Tapi Beda

Tentang desain yang tak banyak berubah, pihak Suzuki angkat bicara. "Desain Suzuki Thunder 125 masih digemari, makanya kami tetap pertahankan," buka Suandi Widiarto, Deputy GM Marketing 2W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Jadi jangan heran kalau perbedaanya baru bisa dilihat bila diperhatikan dengan seksama. Tanki baru misalnya, mampu memuat bahan bakar hingga 15 liter, atau 1 liter lebih banyak ketimbang versi terdahulu. Tutup tankinya juga baru model flip up.

Cover tutup akinya bila diperhatikan ada sedikit perubahan bentuk pada sudutnya. Lampu belakangnya yang dulu bulat juga dibuat lebih meruncing. Desain lampu seinnya juga baru. Spion bernuansa kroom membuat tampilannya lebih mewah.

Di area kaki-kaki, desain baru bisa dilihat pada pelek yang punya bentuk palang lebih gagah dan cover knalpot dengan tampilan baru. Sayangnya airscoop di bawah mesin malah dihilangkan.

Oiya, satu lagi yang berbeda adalah speedometernya sudah digital. Tampilan speedometer dan takometer memang masih analog dengan jarum tapi kini dilengkapi gear indicator dan trip meter dalam bentuk digital.

Cirinya, waktu pertama kali kunci kontak diputar ke On, jarum speedometer langsung bergerak sama melakukan kalibrasi. Oiya, aplikasi panel digital ini juga menghilangkan kabel speedometer di roda depan. Jadi lebih ringkas!

Mesin Lebih Halus

Bukan cuma bodi yang baru, mesinnya juga baru. Dari luar, mesin baru Thunder 125 terlihat lebih berotot. Ini ada hubungannya dengan penambahan engine balancer yang mengakibatkan bentuk crank case-nya berubah.

Engine balancer ini terbukti membuat mesin Thunder baru lebih halus dan minim getaran. Baik saat langsam maupun ketika digeber. Pindah giginya juga halus dan mudah dilakukan.

Data spesifikasi dari Suzuki menyebutkan motor yang tetap pakai bore x stroke, 57 x 48,8 mm ini tenaga puncaknya mencapai 11,28 Ps di 9.000 rpm. Wajar kalau tenaganya baru enak di putaran mesin 5.000 rpm ke atas, itupun terasa halus juga. Sedang limiter dipatok di 10.500 rpm.

Digeber abis di lintasan sepanjang 900 meter dengan berat badan tester 72 kilogram, Thunder 125 baru ini hanya mentok di kecepatan 100 km/jam. Cukup lah untuk harian, toh enggak selalu ngebut sampai 100 km/jam.

Sedang konsumsi bahan bakarnya mencapai 43 km/liter. Catatan ini diperoleh dari beragam kondisi jalanan, ada macet dan lancar.

Handling Nyaman!

Posisi berkendara Thunder 125 yang baru ini tetap sama seperti versi terdahulu. Joknya empuk dan pendek, biker dengan tubuh tak terlalu tinggi pun akan merasa sangat nyaman.

Posisi setangnya juga tinggi, buat jalan jauh akan terasa lebih santai. Kaki juga enggak terlalu maju atau mundur, pas lah! Boncengers juga dimanjakan dengan jok yang empuk dan pijakan kaki yang tidak terlalu tinggi.

Handingnya juga nyaman. Karena bobot motor secara keseluruhan ringan, buat berkelok jadi mudah. Suspensinya juga empuk, ramah pada jalanan berlubang. Artinya motor yang dijual Rp Rp 15,5 juta (on the road Jakarta) ini lumayan asik buat harian! (motorplus-online.com)

sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Minggu, 14 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Thunder 250

Modifikasi Suzuki Thunder 250 milik Agung Abudito ini mengusung konsep Jap’s Style. Acuannya berdasarkan browsing dari internet ketemu modifikasi garapan Rizky Wijaya Modification (RWM).

Menurut Agung, garapan RWM yang dikomandoi Bambang Irawan sebagai buildernya itu, tergolong rapi untuk urusan detail. Hasil garapannya sendiri kebanyakan chopper dan Jap's style.

"Inspirasinya dari melihat karya builder luar lewat internet. Juga jeli melihat perkembangan modifikasi yang saat ini ramai. Itu yang akan membuat karya kita beda dan punya ciri khas," jelas modifikator asli Jogja ini.

Jadi, itulah sebabnya Agung tertarik untuk melakukan modifikasi di bengkel milik Bambang Irawan. Apalagi ketika datang kondisi motor masih orisinil. Berbekal motor yang tampang aslinya memang sudah gagah, Bambang pikirkan konsep dengan matang.

Bambang yang juga jago bikin rangka ini memulainya dengan memotong rangka belakang. Kemudian dirancang ulang supaya rata. “Saya lupa potong berapa centimeter. Selain dari itu, semuanya masih andalkan rangka asli kok,” kata Bambang.

Hanya, batang rangka untuk pijakan boncenger belakang yang tampak mengalami ubahan sedikit. Tujuannya biar dudukan knalpot custom bisa masuk.
Meskipun konsep jadul Japs style, tapi part yang dipakai modern. Seperti pemakaian sok depan dari Yamaha Byson. Pemasangan ini tak menemui kendala berarti. Seperti kebanyakan motor modifikasi lainnya, ketika aplikasi sok ini hanya butuh penyesuain di area komstir.

Lantaran kejar kesan klasik, lengan ayun belakang tak diganti. Tapi, biar lebih pantas, peredam kejutnya aplikasi dari YSS Z-Series. Tapi, arm perlu sedikit ubahan, karena pemakaian pelek lebar 4,25 inci membuat ban jadi mentok.

Bambang putar otak dan solusinya arm ikut dilebarkan. Pakai metode dipanaskan, setelah itu dilebarkan pakai dongkrak. "Jadi ban bisa masuk,” ungkap Bambang yang bengkelnya di Jl. Thole Iskandar, Gg. H. Japat, No. 55, Depok, Jawa Barat.

Selanjutnya, untuk area pengereman juga cukup mumpuni. Agar motor bisa berhenti dengan baik, Bambang memasangkan satu set rem dari Aprilia RS125, dipadu master rem dari Kitaco.

Boleh jadi motor ini memang maksimal di urusan pengereman. Tapi, mesinnya gimana? “Masih standar, bro,” jawab Bambang sambil senyum.

Hanya knalpot yang aslinya satu di sebelah kanan dibuat jadi dua. Keluar dari sisi kiri dan kanan. Knalpot custom ini untuk menguatkan konsep. Bikin tampilan motor jadi nyentrik. Tapi, kemungkinannya bikin tenaga mesin jadi melorot.

Hasil dari modifikasi garapan RWM ini memang punya ciri khas. Dengan konsep jadul yang mengarah Japs Style, tapi tetap menggabungkan unsur modern. Sehingga, detail penggunaan part secara keseluruhan tampak harmonis. Makanya, Agung sang pemilik pun merasa puas. Bahkan berencana untuk mengirimkan motor lain punya dia buat modifikasi ditempat yang sama.  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax BT45 120/70-17
Ban belakang : Battlax 150/70-17
Setang  : Suzuki Bandit
Cat : Sikken
RWM : 0857-77272000


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki GSX750


Julius Rosa alias Mang Use tergolong builder yang ajeg pada aliran chopper ol skool. Semua garapannya selalu disasar ke genre khususnya traditional chop gaya 80-an.

Beberapa karya terdahulu berbasis motor gede Jepangan atau Inggris seperti Yamaha XS 650, Honda NV atau yang cc agak kecil seperti Binter Merzy, tidak terpengaruh tren Jap’s atau brad style seperti yang banyak dilakoni builder Tanah Air.

“Sebenarnya sih fleksibel. Kebetulan saat berbicang dengan klien, ia mempercayakan selera pribadi saya,” elak Mang Use yang punya bendera U53 Kustom Bike, Bandung  ini.

Ia memang tergolong maniak ol skool. Buktinya, saat Deni ‘Hape’ Permana memberikan tantangan merombak GSX 750, Use tetap pada imajinasinya chopper ol skool!

Maklum sudah beberapa kali tampil di  MOTOR Plus dengan karya berbeda-beda. Sedikit evaluasi dari karya Mang Use ini. Dia suka banget menggabungkan gaya skandinavian chop dengan New York style.

Rake diusahakan sama dengan standar pabrikan dengan double down tube merapat ke mesin khas gaya Skandinavian. Sepertinya enggak suka pada rake centang di aliran ini. “Sesuai dengan traffic di Bandung yang semakin padat, saya lebih suka mendekatkan desain ini ke  aliran New Yorker seperti idola saya, almarhum Indian Larry,” jelas  warga Bandung yang berdarah Minang, Sumatera Barat ini.

Menurut Use, rake rapat, ground clearance pendek dan wheelbase yang juga cenderung pendek sangat baik buat estetika motor ini. Bentuk mesin GSX sangat ideal. Cenderung melebar ke kanan dan kiri  sehingga membuatnya makin padat.
“Back bone juga enggak menjulang ke atas agar tidak banyak menyisakan ruang kosong di sektor tengah. Center bone juga rapat hingga riding position ridernya juga ideal. Deni enggak perlu lagi banyak memainkan posisi raiser di setang dan tidak susah payah menjangkaunya,” jelas brother yang sepertinya masih single ini.

Bicara detail, motor ini juga asyik disimak. Ciri khas U53 bisa dilihat dari  kreativitas merancang setang yang menyerupai setang piston. “Model ini sangat fleksibel. Semua bagian dilengkapi baut untuk menyetel posisi paling nyaman. Buat saya bentukannya menarik dan membuat motor tampil lebih elegan,” jelasnya lagi.

Tangki relatif kecil sengaja dirancang agar mesin GSX tampil mendominasi di sektor depan. “Sangat eye cathing kan? Dengan tangki kecil dan setang unik, karakter motor ini makin terlihat, sebagai kuda besi ridiable yang bikin bangga saat diajak nongkrong,” timpal Deni yang bekerja sebagai special event coordinator dari PT Coca Cola ini.

Lanjut ke belakang, ciri traditional chop makin terasa. Romantika jadul dibuat Use dengan fender struts konvensional lewat variasi bentuk mahkota yang mebuat motor ini menarik tapi enggak menjadikan motor ini rame dan lebay.
”Memang harus hati-hati sekali, kalau terlalu banyak bermain variasi takutnya simplisitasnya malah terganggu dan bisa mengurangi keindahannya,” jelas sang builder lagi.

Pamungkas, Jeff Custom Painting memberikan unsur mewah dengan motif flannel aksentuasi gold. Di soal ini mereka tergolong sukses mewujudkan motor impian untuk Deni.

Congratz!  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: IRC 100/90–18
Ban belakang: Dunlop 190/50–17
Rem depan: Satria FU
Sok depan: GT 750
Knalpot: U53 Kustom Bike
CDI : Shogun


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Satria 120R

 
Mundur satu dasawarsa atau sepuluh tahun lalu. Gaya modifikasi paling keren ayam jago. Kolaborasi basic bebek dengan sokbreker depan ala batangan. Di zamannya, gak keren kalo gak modif begini, coy!

Ini yang membuat Suripto dari Ripto’s Bike Custom (RCB), Purwokerto bernostalgia. Bermodal Suzuki Satria 120 lawas, coba ramu komponen layaknya memori masa mudanya dulu.

Yang disasar sok depan. Pilihan rasional sesuai kantong jatuh gedubrak pada sok Honda Tiger. “Secara dimensi paling pas, walaupun sekarang ada sok Yamaha Byson yang punya diameter lebih besar. Punya Tiger lebih luwes dipandang dan murah,” cuap modifikator mungil ini.

Cara pasangnya mudah, memakai laher komstir dari produk lain yang pas dengan komstir Satria. Segitiga juga comot dari Tiger.

Komponen ajrutan belakang masih bertahan monosok. Sebab Suzuki Satria satu-satunya bebek produksi Indonesia pada zamannya yang paling canggih dengan sistem monosok. Lainnya built up.

Untuk buritan cuma tukar sok dari Satria FU, sebab Ripto ingin bergaya nungging. Sehingga sasis belakang terlihat lebih tinggi. “Hanya sedikit ditambah aksen ala motor canggih dengan tambahan stabilizer arm, bahannya pipa besi biasa yang dibungkus fiber agar rapi,” urai Ripto dari Jl. Kutaliman RT 1/2, Kedung Banteng, Purwokerto ini.

Nuansa Purwokerto yang kental dengan desain bodi ala street fighter diterap pada motor milik Teguh Tri Nugroho yang asal Purwokerto itu. Pilihan sudut landai dan bertekstur dipadukan Satria.

Pola lampu depan, Ripto lebih suka ornamen tekukan bodi simpel. Termasuk pola bodi tengah nyambung dari shroud alias sayap samping hingga airscoop. “Untuk ini dibuat sedikit lancip pada ujungnya, agar pas dengan bentuk sepatbor ala Ninja 250,” papar modifikator necis ini.

Bodi belakang pun sama saja, karak-ter guratan landai dan cenderung tanpa sudut ditunjukan secara halus. Apalagi Ripto beken dengan garapan bodi detail. Material bodi ini tentu saja fiberglass. Walaupun berasal dari kota yang beken dengan street fighter buntung, namun Ripto masih memilih double seater agar lebih nyaman dikendarai.

Finishingnya kelir dipilih tipe solid, biar kalem namun masih memiliki karak-ter warna agar detail bodi terlihat apik. Racikan ini kombinasi Lessonal Blue Sea termasuk polirednya agar kinclong. Salam hangat.  (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 90/80-17
Ban Belakang : FDR 100/80-17
Pelek: Rossi
Setang : Ninja150
Lampu depan: Satria FU
Lampu belakang: LED
Knalpot: RCB Racing
RCB: 0816-4289-149


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Thunder 250

Mungkin ini bisa dibilang buah dari hasil persahabatan antara Tan David Pranata dengan Kwendy Alexander. Terobsesi karena sahabatnya melakukan modifikasi cafe racer, Tan David Pranata atau yang biasa dipanggil David juga melakukan hal yang sama pada Suzuki Thunder 250 miliknya itu. Mantap bro virusnya.

Untuk masalah modif, David menyerahkan Thunder 250 kesayangan kepada Doni Ariyanto yang memiliki sapaan akrab Doni selaku pemilik bengkel Studio Custom. Dia bermarkas di Jl. Kesehatan Raya Kolom 3A, Bintaro, Jakarta Selatan.

“Kalau saya sih pengin motor dioprek jadi bobber ala tahun 50-an. Dimana sektor kaki-kaki menjadi gendut. Dan tempat duduk dibikin lebih turun ala chopper 60-an,” ungkap David yang memiliki usaha garmen itu.

Proses yang dilakukan oleh Doni terbilang tidak mudah, tempat duduk yang dibikin ala chopper 60-an sesuai diingikan David harus melakukan beberapa potongan di bagian frame.

Frame standar yang lurus harus dipotong beberapa bagian. Sektor atas frame yang dipakai untuk tempat duduk dipanaskan lalu dibengkokkan agar lurus. Bagian tengah rangka yang dipakai untuk penyangga juga dipotong lebih pendek. Agar mencapai subframe atau tempat duduk yang lebih turun,
Tidak hanya tempat duduk yang berubah. Akibat pemotongan frame, tangki yang dibuat oleh Doni pun harus menambah beberapa dudukan.

Untuk ubahan kaki-kaki, Doni menggunakan pelek custom diameter 16 inci dengan lebar 3,5 untuk depan dan 4,5 buat yang belakang. Dipadu dengan ban Firestone Deluxe Champion 5,00-16 untuk ban depan dan belakang.

Lengan ayun pun dicustom mengandalkan pipa seamless 1,25 inci. “Kan ban belakang sudah besar banget tuh. Kalau tetep mempertahankan swing arm bawaan Thunder 250, pasti harus dilebarkan lagi. Daripada repot dan untuk minim biaya, mendingan dibuat saja swing arm yang pas buat ban lebar ini,” ungkap Doni dengan santai.

Untuk mengimbangi lengan ayun yang sudah mekar, suspensi juga mengikuti. “Saya aplikasi sokbreker belakang copotan H-D Sportster 883,” ungkap Doni lebih jauh menjelaskan.

Agar sesuai tampilan yang sudah garang, Doni memasang knalpot aftermarket buatan Jet Hot. Knalpot ini mampu menghasilkan suara menggelegar dan menghancurkan dunia. Tutup Doni sambil tertawa puas. Ha..ha..  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Lengan ayun  : ARM custom
Setang  : Custom
Kaliper depan : Tokico
Cakram depan : Kumis


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Smash Titan

Aksi bore up di motor yang banyak diminati konsumen itu sudah biasa. Yang special di motor yang jarang dilakukan banyak orang. Selain harus cari komponen baru, mekanik pun tambah ilmu karena hasil karyanya beda.

Contoh di Suzuki Smash Titan lansiran 2010 milik Ricky Gunawan. Volume silinder Titan yang aslinya cuma 112 cc karena pakai diameter seher 51 mm dan stroke 55,2 mm, kini kapasitasnya didongkrak jadi 128,9 cc begitu ganti seher tanpa naik stroke.

“Seher diganti produk Kitaco diameter 54,5 mm. Seher merek ini biasa dipakai untuk Suzuki Shogun 125 (FL 125 SD) yang ingin oversize 100, sebab aslinya cuma 53,5 mm. Kebetulan juga pen piston Titan dan Shogun 125 FL sama-sama diameter 14 mm. Jadi, nggak terlalu repot,” ujar salah satu kru mekanik tim Suzuki Chia Felix itu.

Ricky melakukan bore up mesin di bengkel rekannya, ECO Design di Jl. Keramat Jaya, Gg 8 (samping Islamic Centre), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Katanya blok silinder juga diganti. Untuk bore up menggunakan  silinder blok Shogun 125 FL yang ditanam di lubang crankcase.

“Alasan menggunakan blok Shogun FL supaya enggak repot ganti boring blok Titan. Enggak banyak ubahan di bagian atas, apalagi sampai papas lubang liner di crankcase. Enggak perlu itu karena memang sudah pas. Paling tinggal atur kompresi,” lanjut pria penuh canda ini.

Nah, seperti dibilang Ricky. Semudah-mudahnya blok silinder Shogun 125 FL ditanam ke crankcase Titan, tetap saja ada penyesuaian terutama untuk menentukan rasio kompresi. Apalagi eher Kitaco memiliki kepala cukup tinggi (high comp).
Makanya biar ubahan ruang bakar enggak bikin mesin cepat ngedrop dan tahan lama, Ricky bilang kepala seher dibikin mirip punya Shogun 110. Bagian atasnya rata, tapi di bagian lingkar tengahnya dibikin naik sekitar 0,5 mm tepatnya di tengah antara lubang payung klep in dan ex.

“Lalu kubah ruang bakar menyesuaikan seher. Juga pasang paking head asli Shogun 125 FL agar kompresi enggak terlalu tinggi dan enggak mentok head dan payung klep waktu seher langkah kompresi. Jadi, mesin tetap aman,” ingat Ricky yang mengaku pakai bensin Pertamax Plus itu.

Sipnya lagi, untuk mendapatkan tenaga bawah ke atas lebih besar, Suzuki Titan bore up 130 cc tak harus modif kem. Sebab komponen pengatur debit gas bakar masih karbu standar. Trus seting sekrup udara dan pilot-jet naik dari 15 jadi 17,5. Durasi kem in dan out standar sudah cukup mumpuni.

“Paling tinggal atur jarak celah klep sedikit lebih renggang. Buat pakai harian, celah klep diatur 0,04 mm untuk klep buang dan 0,05 mm buat klep masuk. Sedangkan lubangnya sedikit diporting sekitar 2,5 mm buat lubang in dan 1,8 mm buat lubang buang,” jelas Ricky yang mengaku tetap pakai knalpot standar.

Berhubung Titan dipakai harian juga boncengan, mesin bore up kudu sip diajak melenggang di jalan. Makanya gir reduksi dibikin enggak terlalu berat, lantaran jumlah mata gigi naik dari 14/36 jadi 15/40.

“Kalau pakai sendiri, top speed pernah tembus sampai 110 km/jam lebih. Tapi, berhubung bore up ini cuma untuk kejar akselerasi ringan, wajar enaknya dipakai pas jalan di dalam kota. Lebih terasa tenaganya,” ucap Ricky dengan bangga. Mantab!    (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
CDI: BRT Hyperband
Rantai: 415 SSS buat Suzuki
Busi: NGK HVX9
Ban: FDR MP57 ukuran 90/80
Pelek: Standar Excel 140/160


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Thunder

ModifikasiStudioMotor201210 460x306 Suzuki Thunder Bobber: Clean, Calm & Classic
JAKARTA (DP) – Keinginan David untuk merubah tunggangan Suzuki Thunder 250 menjadi Bobber telah menjadi kenyataan. Awalnya, David disodorkan beberapa konsep pilihan yang ditawarkan Kalis Parmadityo, builder dari bengkel Studio Motor Custom Bike.
Penampilannya memang tampak berubah total. Kalis mengubah rangka asli dengan memendekkan di bagian ekor dan merendahkan di bagian joknya.
Shock absorber standarnyamasih dipertahankan. Garpunya mengapit ban Firestone ukuran 500/16 yang membungkus velg depan 3,5×16 inch. Kalis telah menyesuaikan modifikasi dengan menempelkan segitiga setang custom yang kerenggangannya sedikit agak melebar. Segitiga custom dilebarkan kanan dan kirinya masing-masing satu inci.
Sebagai tempat roda belakang, lengan ayun (swing arm) custom dipasangkan. Tentunya dengan penyesuaian rongga ukuran ban firestone 500/16 yang membungkus velg 4×14 inch. Dipadukan juga dengan master, rem cakram dan kaliper milik Suzuki Satria FU 150.
Khusus shock absorber belakang,  Kalis sengaja memilih menggunakan milik Harley-Davidson. “Untuk bantingannya agak keras, sehingga dipastikan posisi ban tidak menyentuh rumah rodanya,” katanya.
Di bagian mesinb, dua  buah blok silinder dikinclongkan dengan polesan krom. Pada saluran buangnya, diselaraskan dengan knalpot custom Studio Motor.
David, pengusaha, harus menghabiskan sekitar Rp 30 juta untuk Thunder kesayangannya itu. “Pilihan cat warna putih adalah request pemiliknya. Agar terkesan clean, calm dan classic,” kata Kalis saat ditemui Dapurpacu.com di Studio Motor, kemarin  (27/7). “Pengerjaan dilakukan selama dua setengah bulan,”  tutupnya. [dp/Kuh]
Studio Motor Custom Bike
Jalan Kesehatan Raya No. 3A,
Bintaro, Jakarta Selatan
Phone : 081808199489 / 0219265387

Modifikasi Suzuki Satria FU-150

Wuih, PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali berinovasi, kali ini Suzuki Satria F150 dibuatkan versi special edition-nya! Konsep yang diusung kali ini adalah "racing image" yang sporty juga keren. Perubahan paling mencolok ada pada  warna body dan stripping menjadi hitam kombinasi emas.

Desain peleknya juga diarahkan ke warna gold. Warna emas gelap ini sudah lazim menjadi warna pelek di mobil-mobil balap. Semagat inilah yang coba dituangkan Suzuki pada bebek andalannya ini. Selain perubahan warna bodi dan pelek, komponen lainnya tetap sama.  

Motor yang punya kode FU150SCDZ ini tetap mengusung mesin 150cc, 4 langkah, DOHC 4 katup, 6-speed, berpendingin oli. Blok silindernya tipe SCEM dengan teknologi seperti moge.

Fitur lain seperti disk brake depan belakang juga suspensi monoshock link type juga tetap dipertahankan. Pengendara juga tetap bisa memilih mode indicator percepatan melalui tombol SDMS di speedometer untuk memilih cara berkendara Eco, Normal, atau Power.

Rencananya motor ini akan mulai didistribusikan pada awal bulan Agustus ke jaringan distribusi Suzuki di seluruh Indonesia. PT. SIS membanderol bebek sporty-nya ini dengan harga OTR Jakarta Rp 19,165 juta. (motorplus-online.com) 
sumber : http://motorplus.otomotifnet.com 

Kamis, 11 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Satria R120

Modifikasi yang dilakukan pada Suzuki Satria R 120 2004 ini bisa dikatakan xtreme. Dengan melakukan ubahan pada seluruh bagian motor, beberapa identitas asli motor sudah tak terlihat lagi. Bahkan sistem penggerak roda yang menggunakan rantai, diganti dengan belt. Hmmm, seperti H-D atau matik saja nih.

"Konsep yang saya bawa adalah Euro Fighter (EF), petarung di jalanan bergaya Eropa dengan menyertakan unsur-unsur modern," kata I Nyoman Suparwata yang biasa dipanggil Nang Pacung.

Untuk menggunakan belt seperti itu, dia harus membuat pully. "Sebab tidak ada ukuran pully variasi yang cocok dengan dimensi belt yang saya inginkan," kata Nang Pacung lagi.

Dia membuat pully untuk depan dan belakang. Sebenarnya untuk depan masih ada gir kecil dan rantai yang kemudian disambungkan ke pully depan. Semacam menggunakan transfer case.

"Sedangkan untuk beltnya menggunakan merek X Speed. Merupakan belt yang banyak digunakan di mesin-mesin kapal," kata ayah 2 anak ini.

Pelek mobil  custom dilengkapi jari-jari besar (kiri) - Belt harus kuat (kanan)
Tentu saja dia memiliki alasan khusus sehingga menggunakan itu. Pertimbangan utamanya lebih pada unsur safety. "Sebab belt ini mempunya lebar 5 cm, sehingga kuat," ungkap penasehat komunitas GPS di Bali ini.

Kekuatan belt ini memang sangat diperhatikan oleh Nang lagi. Hal itu karena bobot motor sudah jauh lebih berat dibandingkan aslinya. Penyebabnya antara lain karena penggunaan pelek custom di belakang.

"Saya membuat pelek dengan lebar 3 inci dari bekas pelek mobil. Sedangkan ukuran diameternya 14 inci," ujarnya lagi. Sudah pasti pelek dengan spesifikasi seperti ini lebih berat dibandingkan pelek standar atau yang variasi biasa sekalipun.

Apalagi ukuran ban yang digunakan juga tergolong ekstra besar. Roda   belakang itu sekarang menggunakan merek Shinko besarnya 180/80-14. Ban ini mempunyai profil atau kembangan yang besar seperti tahu.

Akibatnya bobot roda menjadi berat. Sehingga membutuhkan penarik yang kuat. Jika beltnya kecil dikhawatirkan akan cepat putus.
(motorplus-online.com)






DATA MODIFIKASI
Pelek depan : Rossi
Ban depan : Shinko 140/80-17
Pelek belakang : Custom
Arm : Custom
Monosok : Kitaco
Setang : Top Secret
Knalpot : Custom
Kaliper : KTC
Disc brake : PSM
Stop lamp : Koso


 sumber : http://motorplus.otomotifnet.com

Modifikasi Suzuki Skydrive


Bodi dibiarkan standar karena dianggap sudah oke
Istilah aliran pro-street biasanya diadopsi di motor-motor besar macam H-D. Namun Topo Goedhel Atmodjo dari Tauco Custom ngotot aplikasi di skubek. Katanya seperti terlihat di Suzuki Skydrive milik Bro Yudi Hendra ini.

Istilah pro-street gaya-gayaan Topo saja. Mungkin menurut dia sih motor prosteet yaitu bisa dipakai di jalanan. Bukan seperti di H-D yang cirinya antara rangka belakang dan depan rata.

Kalau mau jujur sih lebih gampang Skydrive ini mengikuti aliran low rider. Ciri aliran low rider di skubek tidak hanya berkesan ceper, tapi sumbu roda dibuat melar.

Tentu teknik paling gampang untuk memanjangkan sumbu roda, modifikator urakan itu pasang undur-undur atau engine mounting yang dipanjangin. “Sekarang lebih molor 15 cm,” jelas Topo yang konsisten dengan bodi pelat itu.
 Setang dari Honda (kiri) - Undur-undur bikin mundur 15 cm (kanan)
Topo mengubah bagian kaki-kaki lain. Pelek belakang aplikasi yang lebih lebar. Untuk itu harus main custom. Lingkarannya aplikasi dari pelek mobil bahan besi. Dipilih yang lebarnya 6 inci.

Sedangkan untuk pegangan dengan teromol, mengaplikasi gaya pelek billet atau monoblok. Bahannya ambil dari pelat besi 2 cm dipadukan dengan teromol asli Skydrive. “Karena jenis bahan yang berbeda, digabungkan dengan teknik baut,” jelas bro yang bermarkas di Jl. Kebagusan Raya No. 99 Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Untuk sokbreker belakang juga disesuaikan dengan tampilan low rider. Dipilih yang desainnya klasik. Diambil dari kepunyaan Honda Grand yang aslinya sudah dikrom abis.

Tinggal pelek depan. Diambil dari punya mobil juga yang lebarnya 3 inci. Untuk billet atau bagian dalamnya juga aplikasi dari pelat 2 cm. Sedangkan teromolnya bikin dari pipa. Dibuatkan dudukan laher kanan-kiri, namun tanpa gigi spidometer karena sudah aplikasi model digital.
 Upside down dari limbah big scooter (kiri) - Sok grand klasik (kanan)
Untuk sok depan mengandalkan tipe upside down dari limbah big matic. Pemasangannya gampang, cukup melepas as segitiga Skydrive, dipasangkan di triple T upside down.

Kini Yudhi puas, motor yang sebenarnya untuk hadiah ulang tahun istrinya sudah keren. Pada saat pengambilan, wajah sang istri penuh bingar. Doi bilang, “yang.. motornya bagus, saya suka” tutup Vita, bininya Yudhi.

So sweet, bro! (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 120/70-14
Ban belakang : Corsa 150/60-14
Knalpot : Kwangen Product
Sepatbor : Tauco
Tauco Custom : 0856-8380-209


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com 

Modifikasi Suzuki Thunder 125

Ide untuk mengusung tema Jap’s style diperoleh Panji Riya Sempana dari hasil browsing di internet. Modifikasi yang ngetren di negeri Sakura tersebut diterapkan di Suzuki Thunder 125 tunggangannya.

Panji yang asli Sukabumi dan tinggal di Cirebon ini bekerja serba sendiri. Mandi-mandi sendiri.., makan-makan sendiri... Macam lagu dangdut saja. “Iya, meski sudah enam tahun tugas di Cirebon, tapi saya kurang tahu bengkel modif daerah sini. Jadi, semua dilakukan serba sendiri,” ungkap ayah satu putra ini.

Beberapa part didapat dari hasil berburu lewat dunia maya. Belanja lewat online. Mulai tangki, kemudian cover penutup aki, knalpot hingga pernak-pernik kecil lainnya. Seperti lampu utama, rem dan juga sein dipilih dari Honda CB.

“Bentuk sebagian parts CB tersebut lebih pas dengan genre Jap’s style. Dari segi tampilan terlihat cukup ramping. Jadi cocok untuk diterapkan,” ujar Panji yang berprofesi sebagai petugas Lapas Narkotika.
Lanjut pada prosesnya, pertama dilakukan potong sub frame buritan sekitar 20 cm. Wajib hukumnya dalam modifikasi Jap’s style, agar posisi jok tidak terlalu sejajar ban belakang. Panji dibantu tukang las sekitar rumahnya dalam memangkas.

Bagian peredam kejut depan tidak alami ubahan, tetap andalkan aslinya yang dirasa mewakili unsur modern. Hanya diberi tambahan pemasangan karet sokbekernya saja. Sedangkan untuk belakang, adopsi milik dari Honda Astrea Prima yang terlihat lebih jadul dengan ciri khasnya berupa tabung penutup per sokbekernya.

Untuk saluran pelepas gas buang, Panji pasang knalpot milik dari CB 125. “ Bentuknya pas guna menutupi bagian bawah motor. Agar ruangnya tidak terlalu kosong. Suaranya pun masih tetap dibiarkan standar, tidak terlalu bising,” jelas Panji.

Sebagai pemanis tampilan agar terlihat makin jadul, pada bagian depan mesin diberi sentuhan berupa pemasangan engine guard dari bahan besi. Menurut Panji, dipasang sebagai bentuk kamuflase agar terlihat lebih padat dan penuh di sektor mesin.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Pelek : V. Rossi
Ban depan : FDR 110/70-17
Bang belakang : FDR 130/70-17
Tangki : CB 100
Jok : Custom
Spion : Vespa


sumber : http://motorplus.otomotifnet.com 

Rabu, 10 Oktober 2012

Modifikasi Suzuki Satria FU150

Suzuki Satria FU 150 masih jadi bebek paling laris Suzuki di 2012. Sejak awal tahun hingga bulan Juni 2012, penjualannya tembus hingga 118.576 unit. Padahal secara harga, masuk golongan bebek premium yang dijual dengan harga diatas Rp 18 jutaan.

Penjualannya tiap bulan terus konsisten diangka 24 ribu sampai 16 ribuan per bulan. Bahkan bebek bermesin 150 cc DOHC 4 klep ini juga diekspor ke beberapa negara di Asean, salah satu tujuan ekspornya adalah Philipina.

"Sampai saat ini, kami merasa Suzuki Satria FU 150 diterima masyarakat karena bentuknya yang unik dan satu-satunya bebek DOHC dengan mesin besar dan performa mesin yang bagus," yakin Suandi Widiarto, Deputy GM Marketing 2W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Motor yang dilengkapi dengan transmisi 6-speed ini juga telah mengusung pendingin oli dan silinder SCEM dengan teknologi seperti moge-moge Suzuki. Terlebih, kini Suzuki juga melengkapi bebek andalannya ini dengan 5 pilihan two tone yang sporty.

Total penjualan Suzuki pada semester pertama 2012 mencapai 245.475 unit. Bebek masih menjadi tipe paling diminati, totalnya ada 165.750 unit yang disumbang dari penjualan Shogun Axelo, Smash Titan dan Satria FU150. Sedang total penjualan matiknya mencapai 74.287 unit.

Hingga saat ini, total market share Suzuki secara nasional memang hanya 6,56 persen atau menguasai penjualan hingga 245.475 unit. Tapi dengan kehadiran model-model baru seperti Nex Injeksi dan Inazuma 250 yang kabarnya akan diluncurkan tahun ini,  diharapkan Suzuki dapat melipat gandakan penjualan. (motorplus-online.com)    
sumber : http://motorplus.otomotifnet.com